Fyuh, mimpi kali ini lagi-lagi mimpi tentang kematian diri sendiri.. langsung aja
Mimpi, waktu itu ada suatu urusan kesekolahan tentang semacam program pelatihan khusus. (disini gw sudah lulus SMA, tp lokasi sekolahanya mengambil bentuk SMP gw entah mengapa).
Disekolahan, bertemu dengan gerombolan anak-anak kelas gw waktu kelas 2 SMA yang sering meledek gw. Benarlah sampai sana gw diledek terus-menerus tiada henti. Speechless sebenarnya gw hanya ingin bertanya kepada salah satu orang dikumpulan itu. Selesai bertanya gw ya mencoba pergi dari tempat pencacian itu, tetapi didalam hati sesungguhnya gw sangat kesal. Seandainya disana ada sebuah samurai ingin rasanya menebas semua kepala-kepala mereka sehingga mereka tidak bisa mengolok orang lain lagi. Namun apalah guna, seperti biasa gw berdoa kepada allah, dan do'a gw kali itu adalah : "Ya allah, buatlah mereka menjadi orang yang lebih baik mesti itu nanti dalam waktu yang lama atau singkat sehingga tidak menyakiti hati orang lain lagi, biarlah ambil dosa-dosaku (untuk mereka) sebagai ganti memperolok diriku ya allah, hamba tidak akan mengampuni mereka semua hingga nanti mereka yang meminta maaf kepada hamba terlebih dahulu ya allah."
~Sebelumnya gw dan keluarga baru kembali setelah pergi lumayan lama (berhari-hari). Tentu saja rumah sewaktu ditinggal dalam keadaan kosong.~
Seusai pulang dari sekolah (entah mengapa waktu itu malam). Gw melihat ada yang tidak beres, salah satu pagar rumah "belah" terdapat bekas seperti terpotong. Melihat jendela yang salah satunya "belah" juga. Sedang posisi pagar dan jendela itu tepat membentuk garis lurus (terpikirlah kalau ada sesuatu yang enggak beres). Seperti biasa Ibu gw sedang membereskan rumah (kalau libur biasanya ia sering membereskan rumah), setelah diberitahu dengan memperlihatkan tanda pemotongan tersebut terpikir kalau itu bekas adanya upaya penjarahan rumah (pencurian) tetapi melihat isi rumah masih dalam keadaan bersih, terlalu bersih bahkan, tidak terlihat ada upaya pencurian barang seperti TV, dsb.
Tidak lama, tiba-tiba dari jauh datanglah dua orang pria berboncengan dengan sepeda motor. Salah seorang segera menerobos masuk dengan menodongkan sebuah revolver (entah revolver apa warnanya hitam, seperti revolver rakitan biasa yang ukuranya ga pasti). Membentak sambil menodongkan revolver itu, pria tersebut (belakangan kita sebut dia "no.A" , sedang yang membonceng "no.B") meminta uang dan perhiasan, semuanya kalau bisa dalam waktu yang singkat as sambil membentak "CEPAT!!". Ibu segera pergi, sedang gw masih keadaan tertodong. Posisi no.A semakin dekat, semakin dekat dengan gw.. dan seakan itu pula gw bergerak secara tiba-tiba mencoba merebut revolver dari tangannya dan DOR! sebuah peluru melesat tidak terarah(kaku, kesanya dalam pikiran gw. Dalam jarak segitu ia tidak berfikir kalau sewaktu-waktu gw bertindak gegabah). Setelah tembakan pertama, kami masih berebut revolver namun betapa no.A mencoba melepaskan tanganya dari genggaman gw ia beberapa kali menekan "pelatuk?"(apa sih namanya gw lupa pencetan untuk menembak) namun tidak keluar lagi suara tembakan, hanya berbunyi ctik.. ctik.. seperti motor matic habis dipakai.
Setelah tahu tidak ada lagi peluru dalam revolver itu (setahu gw revolver umumnya berpeluru maks 6-8/10) gw semakin semangat merebut pistol itu dan merobohkan no.A . Tidak berapa lama ia berhasil gw robohkan, dalam keadaan tengkurap dengan salah satu tanganya gw tahan seperti ingin mematahkanya, dan revolver tentu saja telah dipegang.
| gw diatas menahan tangan no.A yang sedang posisi tengkurap |
Setelah berhasil melumpuhkan no.A Ibu gw keluar dengan tidak membawa apa-apa tentu saja (mungkin dikiranya anaknya mati tertembak). Kemudian gw meminta Ibu untuk menghubungi polisi, namun tidak terhubung, dan Ibu tetap mencobanya. Sedang no.A mengetahui hal tersebut tiba-tiba ia meminta maaf, memohon ampun agar tidak dijebloskan kedalam tahanan karena ia melakukan hal ini karena terpaksa oleh keadaan ekonomi, sambil menangis (sepertinya) ia mengatakan bahwa ia butuh uang untuk anak-anaknya. (well sebenarnya sih bodo amat, siapa suruh mencuri?)
Tidak lama, datanglah kembali no.B namun kali ini dia membawa serta seorang lagi dibelakangnya (no.C kita sebut). Melihat itu, gw menyuruh Ibu segera pergi kekamar dan bersembunyi sambil terus mencoba menelpon polisi. Sedang gw akhirnya melepas tangan no.A sambil berharap dalam hati (moga-moga lu bantuin gw lawan no.B& no.C). Sambil pergi kedalam bagian rumah lainnya mencari alat pertahanan diri, gw melihat stick golf (aslinya ga ada dirumah) dan mengambilnya. Masuklah no.B & no.C , sedang no.B membantu no.A berdiri no.C mencari gw kedalam (ia membawa rifle ditangannya dengan tipe lever-action).
Mencoba menyerang gw bersembunyi dibalik salah satu sisi tembok, ketika ia masuk saat itu juga gw coba menyerang. Namun tidak terlalu efektif, sekarang kami berhadap-hadapan. Berpikir, gw loncat, nunduk, terus handap kepalanya pakai tongkat. Langsung saja gw melompat tiba-tiba, ia mungkin sedikit kaget dan langsung mengangkat senjatanya. Menunduk tiba-tiba, dan saat ingin memukul.. DOR! Sebuah peluru riflenya menghantam bagian perut atau bagian bawah perut (bukan kaki). Uuh, rasanya gak terasa apa-apa. Mati rasa gw.. Kemudian hilang keseimbangan berdiri, gw seperti posisi bertekuk lutut dan mencoba menghantamkan kembali namun "useless" karena tiba-tiba sebuah peluru menghantam dada/kepala gw. Berakhir sudah, gw tiba-tiba berasa gelap.. gelap gulita.
Tidak terasa apa-apa, tidak terdengar suara, tidak terasa bernafas, sunyi gelap dan tidak panas tidak dingin, betul-betul hampa. Saat itulah gw terucap la ilaha illallah 3x. dan kemudian mengucap syahadat kemudian semua kejadian berputar muncul hilang dipikiran khususnya kejadian hari itu disekolahan, dirumah saat gw salah dilangkah pertama sewaktu berhadapan dengan no.C (yang gw rasa, pengalaman dengan senjatanya). Menyesal karena gw tidak punya senjata api untuk membalasnya..
Kemudian gw sedih, karena kejadian itu gw gak berhasil melindungi Ibu gw yang munkin saja tidak lama kemudian Ia menyusul gw. Sedih (nangis sebenarnya). Pasrah lah saja.... Tidak lama kemudian, gw berfikir ini kah mati? mencoba menghiraukan dan berontak, ingin bangun kembali dan membalas no.C dan no.B tiba-tiba gw menyentak!! Brak!(bunyi kasur) gw langsung terbangun dari mimpi ini (dari posisi telentang waktu tidur, terbangun dengan posisi mau berdiri di kasur). (''^_^ )>
Lega karena gw masih bernafas dan waktu menunjukan pukul 3-an pagi. Tapi tetep kesel karena gw ga berhasil melindungi Ibu.. Ngomong-ngomong ini kali ke-2 nya gw mati. Yang pertama saat gw ditanya di alam kubur (jelas udah mati dong) dan yang kedua gw mati karena tertembak 2 kali. Gw takutnya ini berhubungan di suatu saat nanti kedepannya. Jangan sampai ya?!!
Langsung nulis ini entri dari jam 1/2 4 pagi sekalian nunggu shubuh. Ga pengen tidur lagi..
"note: 1 hal yang jelas, teman-teman yang sering mengolok orang itu gak akan pernah teridoi maaf dari gw karena gw mati saat itu sebelum mereka meminta maaf."
Lupa ditambahkan, kenapa sipencuri tidak mengambil barang-barang lainnya. Gw rasa karena motif mereka itu kan uang, dan perhiasan yang notabene ukurannya lebih kecil dan tidak menarik perhatian daripada co: membawa TV yang ukuran 21" atau lainnya yang mencolok. Dan mengapa mereka datang hari itu, karena keluarga kami pergi berhari-hari jadi kemungkinan setiap hari maling-maling itu menyatroni rumah sambil mencari tujuannya (uang/perhiasan).



